Wednesday, 4 July 2018

Mengenal Ketofastosis Life Style

Untuk memahami makhluk apakah Ketofastosis itu, marilah kita pahami terlebih dahulu beberapa istilah menyangkut nama Ketofastosis itu sendiri.

  • Keto(genic) adalah pola makan  yang menerapkan makanan yang rendah karbohidrat, protein sedang, dan tinggi lemak. 
  • Fastosis, kependekan dari fasting on ketosis yang artinya berpuasa dalam kondisi ketosis. 
  • Ketosis adalah kondisi saat tubuh tidak lagi menerima asupan karbohidrat (glukosa) sebagai sumber makanan untuk diproses menjadi energi.
  • Keton adalah asam yang diproduksi ketika tubuh kita mulai menggunakan lemak, bukan karbohidrat, untuk energi. Ketika tidak memiliki insulin untuk menyuplai gula dari darah ke dalam sel, tubuh menggunakan lemak sebagai energi. Ketika lemak dipecah, keton dihasilkan dan dapat terakumulasi dalam tubuh. Ketone baru bisa diproduksi oleh liver  saat glukosa darah rendah, yaitu saat tubuh dalam kondisi puasa, olahraga, atau asupan makanan yang rendah karbohidrat

    Jadi, Ketofastosis kurang lebih artinya gaya hidup yang menerapkan pola makan rendah karbohidrat, protein sedang dan tinggi lemak, disertai dengan berpuasa dalam arti tubuh tidak menerima asupan karbohidrat (glukosa).

    Mengapa harus rendah karbohidrat, protein sedang, dan tinggi lemak?

    Lemak merupakan “substrate” bahan bakar yang paling ketogenic. Dimana lemak hanya memiliki 10% komposisi glycerol yang bisa dirubah menjadi glukosa. Ini berarti lemak memiliki sifat yang sangat rendah kemungkinannya untuk bisa memicu Insulin (Insulinogenic), maupun untuk dirubah menjadi glukosa (Glucogenic)
    Protein merupakan “substrate” yang menjadi “building block” utama dalam “sintesis” sel-sel baru, seperti untuk regenerasi sel dan untuk perbaikan sel. Namun protein memiliki 56% komposisi “amino acid” yang bersifat “Glucogenic” yang artinya dapat dirubah menjadi glukosa melalui jalur “Gluconeogenesis”. Ini juga berarti bahwa 56% komposisi protein bersifat “Insulinogenic”.
    Karbohidrat merupakan “substrate” yang paling tinggi komposisi nya untuk dirubah menjadi glukosa ditubuh. Dimana karbohidrat memiliki 100% komposisi yang dapat digunakan dalam langsung untuk proses “Glycolysis” (metabolisme glukosa di cytoplasma). Hal ini menyebabkan Karbohidrat memiliki sifat 100% “Glucogenic”, yang otomatis juga akan bersifat 100% “Insulinogenic”.
    Dalam program Fastosis, kunci utama nya adalah Puasa. Dimana kondisi puasa adalah kondisi yang sangat rendah hormon “Insulin”, namun merupakan kondisi yang tinggi hormon “Glucagon” (antagonis insulin yg diproduksi juga di pancreas). Saat di jam puasa, kondisi rendah insulin ini akan memicu glucagon untuk lebih aktif memicu degradasi lemak (Lipolysis) untuk energi, sedangkan kemunculan respon insulin akan membatalkan proses ini.
    Lalu saat di jam makan (feeding window) pada program Fastosis, respon insulin tetap ditekan dengan memilih rasio makronutrisi yang tinggi Lemak, dan rendah protein/karbohidrat. Tujuannya agar level hormon glucagon tetap dominan ditubuh, dan tidak mengganggu proses atau adaptasi pada metabolisme “ketogenesis”.
    Ketogenesis yang optimal akan memberikan suplai “ketone” yang optimal didarah, sehingga menciptakan kondisi ketosis yang sempurna dan dapat “mereverse” berbagai problem yang sebelumnya terjadi akibat “Surplus Energi” dari glukosa yang memicu tinggi konsentrasi Radikal Bebas (ROS), memicu pelengketan/karamelisasi di tubuh (Glycation) dan berbagai abnormalitas/anomali lainnya akibat kondisi tinggi glukosa dalam darah.


    Mengapa harus berpuasa?

    Puasa dalam program Fastosis, adalah salah satu usaha untuk menciptakan “Defisit Kalori” yang menyebabkan pengosongan “Glycogen” diseluruh tubuh. Saat cadangan glycogen di liver telah habis, maka tubuh akan menginisiasikan proses “Ketogenesis” di liver, untuk memproduksi “Ketone” sebagai pengganti glukosa di seluruh tubuh, terutama bagi sel-sel otak.
    Kondisi puasa adalah kondisi dimana level hormon insulin sangat rendah, yang otomatis akan memaksimalkan level hormon glucagon sebagai antagonisnya. Hormon glucagon ini yang akan memicu proses “Lipolysis” (degradasi lemak) yang stabil setiap saat dalam program Fastosis.
    Puasa juga akan mempercepat pembersihan terhadap “Glycation” yang pernah terjadi di gaya hidup sebelumnya yang mengkonsumsi tinggi karbohidrat dalam diet sehari-harinya. Pembersihan “Glycation” ini akan mempercepat tercapainya level gula darah optimal yang di targetkan di program Fastosis, yaitu dibawah 80 mg/dL
    Puasa merupakan kondisi dimana pencernaan tidak bekerja, sehingga energi yang tersedia ditubuh bisa dialihkan untuk keperluan lain seperti perbaikan sel-sel ditubuh yang rusak, aktivitas sel-sel immune untuk melawan ancaman dan membersihkan racun-racun ditubuh, dan juga memicu regenerasi sel-sel ditubuh yang menghasilkan efek “Reverse Aging”.


    Pada program KFLS wajib pula mengkonsumsi rutin VCO dan Madu Immunator (IH), mengapa?


    VCO merupakan jenis lemak yang memiliki rantai karbon yang pendek (Medium Chain Triglyceride/MCT) yang mudah di pecah oleh Liver menjadi “Glycerol” (bahan pembuat glukosa) dan “Fatty Acid” (bahan metabolisme lemak dan untuk diproses lebih lanjut menjadi “Ketone” di liver).
    Supplementasi dengan VCO ini, jelas akan menolong proses transisi tubuh menuju metabolisme lemak, dimana Liver akan lebih cepat memproduksi “Ketone” untuk segera menggantikan posisi glukosa yang mulai hilang ditubuh dalam Fastosis. Hal ini penting untuk membentuk “Transisi Halus” dari metabolisme glukosa ke metabolisme lemak ditubuh, dan mencegah efek “Hypoglycemic” yang mungkin terjadi atau menimbulkan gejala yang berlebihan. Namun seiring proses adaptasi “Ketosis” yang lebih sempurna, yang biasanya terjadi setelah periode 3 bulan program, maka VCO dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan dalam program. Karena saat sudah beradaptasi dengan Lemak dalam bentuk apapun, seperti terhadap tipe “Medium Chain Triglyceride” (MCT) maupun “Long Chain Triglyceride” (LCT). Tipe LCT ini merupakan tipe yang paling dominan ditubuh manusia, dimana LCT ini merupakan tipe yang paling banyak ditemukan pada jaringan penyimpan lemak manusia (Adipose Tissue).
    Immunator Honey merupakan “alat” yang digunakan diprogram untuk membentuk “Conditioning” terhadap sistem immune manusia untuk selalu “Melek” (sensitif), sehingga mampu memicu identifikasi terhadap segala “abnormalitas” ditubuh. Abnormalitas ini dapat berupa kehadiran sel-sel “antigenic” seperti “pathogen” maupun “sel kanker”.
    Abnormalitas ini juga dapat berupa kondisi “Inflamasi” berlebihan yang terjadi sebelumnya, akibat sel-sel immune yang bersifat “overreaktif” dan “inflammatif”. Kondisi “sensitif” yang dipicu Immunator Honey, akan mengembalikan keseimbangan respon immune dan mencegah terjadinya “Over-Inflammasi” dalam “Usaha” sel-sel immune membereskan masalah yang ada “sebelumnya” (Existing Problem/abnormalitas). Kondisi “sensitif” ini akan mengoptimalkan “proses perbaikan” yang akan berlangsung, namun tetap menjaga “intensitas” respon immune agar tidak menyebabkan “Over-Inflamasi” yang bersifat “Negatif” dan justru akan melukai “Host” (tubuh) nya sendiri. Hal ini diperoleh saat semua receptor dipermukaan sel-sel immune menjadi meningkat kesensitifannya dan dapat mengatur proses “Signalling” antar sel lebih baik (Negative Feed Back Loop). Sehingga respon immune untuk perbaikan kondisi, menjadi lebih terkontrol dan menciptakan “Thermostat” alami yg dapat mencegah terjadinya “Indikasi Over-Inflamasi” yang mungkin terjadi.
    Sel-sel Immune yang telah sensitif ini juga akan memperhalus transisi menuju kondisi “Ketosis”, dimana kemungkinan kemunculan gejala “Hypoglycemic” akan terkontrol dan tidak menyebabkan efek “inflamasi” lanjutan ditubuh. Hal ini diperoleh dari efek sensitifitas sistem immune yang mampu mencegah terjadinya “Over-Inflamasi” seperti yang telah dijelaskan sebelumnya diatas.
    Sensitifikasi sistem immune ini juga memicu “aktivitas” sistem immune manusia yang lebih “Aktif”. Dimana kondisi “Aktif” ini akan membuat konsumsi “Energi” menjadi lebih besar ditubuh, akibat kebutuhan energi yang diciptakan oleh sel-sel immune yang menjadi aktif “Bergerilya” (Immuno-Surveillance) untuk mencari “antigen-antigen asing/abnormal” ditubuh, seperti antigen dari “pathogen” maupun “sel kanker”.
    Aktivasi sistem immune ini juga akan memicu proses pembersihan (Phagocytosis) terhadap “kotoran-kotoran” (impurities) ditubuh, seperti halnya proses “Scavenging” yang dilakukan oleh “Macrophage” pada “Plak” di arteri pembuluh darah. Aktivitas pembersihan ini memicu peningkatan kebutuhan “energi” ditubuh.
    Dengan demikian, secara “overall” aktivasi sistem immune jelas akan meningkatkan kebutuhan energi (metabolisme) ditubuh, dan akan menciptakan “Kalori Defisit” yang lebih “Besar”.
    Kalori Defisit ini akan mempercepat proses pembersihan (konsumsi) glukosa ditubuh, dan akan “Mempercepat” proses “Transisi” ke kondisi “Ketosis” yang diharapkan.
    Immunator Honey merupakan “Alat” yang digunakan untuk memicu “Sensitifikasi” sistem immune, dimana hal ini dapat terjadi disaat “Tubuh” mengalami “Ancaman”. Immunator Honey menggunakan protein yg berasal dari Colostrum Sapi, yang diproses secara “Ultrafiltrasi” sehingga menghasilkan ukuran partikel yg sangat kecil (Dalton Size). Ukuran I sangat kecil untuk bisa meniru ukuran protein pada “antigen” Virus. Antigen Virus merupakan protein yg dilapisi Glukosa (Glycosylated Viral Protein – Glycoprotein), sehingga agar protein dari colostrum sapi ini bisa meniru bentuk dari antigen Virus, maka protein yang telah di “Ultrafiltrasi” ini di “Infused” (Inkubasi) dengan madu, sehingga akan membentuk proses “enzymatic” yang memicu perekatan Glukosa dari Madu pada permukaan protein tersebut.
    Inilah tujuan mengapa Immunotherapy yang dihasilkan oleh Immunator Honey, harus menggunakan media Madu sebagai “Pembawa” nya (Carrier).
    Efek yang dihasilkan oleh “Ancaman Fiktif” dari Immunator Honey, akan membuat sistem immune menjadi “Waspada” (Alert). Disinilah proses “Sensitifikasi” sel-sel immune terjadi, dimana kondisi Alert ini akan menyebabkan sel-sel immune menjadi “Aktif” bergerilya mencari “Antigen-Antigen non-Self” (antigen asing atau malignant) dilingkungan “Microcellular” didalam tubuh (Immuno-Surveillance).
    Respon Immune yang dihasilkan Protein berlapis glukosa ini akan menimbulkan “Alert” di sel-sel immune Adaptif, seperti CD4 (T-Helper Cells), CD8 (T-Killer Cells), CD56 (NK-Cells) dan CD19 (B-Cells). Dimana “Lymphocte Subset” ini adalah sel-sel immune yang bertugas “Menseleksi” dan “Mencari” sel-sel yang terinfeksi ditubuh dan juga sel-sel yang bersifat “Malignant” (sel Kanker).‎



    No comments:

    Post a Comment